Jumat, 12 Juni 2015

Pembelajaran Yang Efektif

A.    Pembelajaran yang Efektif
Pembelajaran adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Penyediaan lingkungan pembelajaran yang efektif meliputi strategi yang digunakan guru untuk menciptakan pengalaman ruang kelas yang positif dan produktif. Siswa berpartisipasi dalam kegiatan yang ditata dengan baik dan melibatkan minat mereka, termotivasi siswa untuk belajar, memberikan tugas-tugas yang menantang dalam batas kemampuan mereka.
Penciptaan lingkungan pembelajaran yang efektif melibatkan pengorganisasian kegiatan di ruang kelas, pengajaran untuk memungkinkan penggunaan waktu yang efektif, menciptakan lingkungan pembelajaran yang produktif, serta meminimalisir bentuk-bentuk gangguan. Guru menyajikan pelajaran yang menarik dengan menyesuaikan pengajaran mereka terhadap tingkat persiapan siswa dan mengelola waktu dengan efektif.

B.     Dampak Waktu Pada Pembelajaran
Waktu adalah sumber daya terbatas di sekolah. Sekolah biasanya melakukan pertemuan sekitar 6 jam per hari selama 180 hari setiap tahun. Alokasi waktu adalah waktu yang tersedia bagi siswa untuk mempunyai kesempatan belajar. Cara untuk meminimalisasikan alokasi waktu yang hilang dalam pengajaran:
1.      Menggunakan semua waktu di ruang kelas dengan baik
2.      Mencegah permulaan yang terlambat dan penyelesaian dini
3.      Mencegah gangguan dari dalam atau dari luar
4.      Menangani prosedur rutin
5.      Meminimalkan waktu yang dihabiskan unuk disiplin

6.      Menggunakan waktu sibuk dengan efektif

C. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif
Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa sehingga dapat menfasilitasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.


1.      Desain Lingkungan Fisik
Menurut Everston ada empat prinsip yang dapat dipakai dalam menata kelas, yaitu:
1.   Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang
2.   Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat semua anak
3.   Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak harus mudah diakses.
4.   Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua prestasi kelas.

Menurut Renne, penataan kelas standar dapat dilakukan dalam lima gaya penataan, yaitu:
  1. Gaya auditorium
  2. Gaya tatap muka
  3. Gaya off-set
  4. Gaya seminar
  5. Gaya cluster

2.      Pengelolaan Kelas yang Positif untuk Pembelajaran
Upaya menciptakan lingkungan positif bagi siswa dapat dilakukan dengan memberi hadiah terhadap perilaku yang tepat. Untuk pemberian imbalan dalam mengelola kelas guru harus dapat memilih penguat yang efektif, menggunakan prompt dan shapping secara efektif. Menggunakan imbalan yang mengandung informasi tentang kemampuan siswa yang bisa meningkatkan motivasi intrinsic dan rasa tanggung jawab siswa bukan untuk mengontrol perilaku.

D.     Komunikasi Efektif Antara Guru dengan Siswa
Seorang guru dapat meggunakan startegi ini untuk berinteraksi dengan siswa dan melatih keterampilan siswa dalam mendengar aktif:
1.      Memberikan perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara seperti menunjukan bahwa anda tertarik pada hal yang sedang dibicarakan, gunakan kontak mata, isyarat condong badan kepada orang yang sedang berbicara.
2.      Melakukan parafrasa, menyatakan kembali kalimat yang baru saja dikatakan orang lain dengan menggunakan kalimat sendiri.
3.      Mensintesiskan tema dan pola, meringkas perasaan pembicara yang disampaikan dalam percakapan panjang.
4.      Memberi umpan balik atau tanggapan dengan cara yang kompeten

Mata Kuliah : Pembelajaran PKN di SD
Dosen : Dirgantara Wicaksono, M.Pd

Assesmen Dan Evaluasi Dalam Pembelajaran

ASSESMEN DAN EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN

A.    Kelas Sebagai Konteks Penilaian
Penilaian dan evaluasi pembelajaran telah menarik minat dalam dunia pendidikan. Minat ini difokuskan sejauh mana guru harus menggabungkan standar Negara ke dalam pengajaran dan penilaian. Sejauhmana guru harus menggunakan tes tradisional atau penilaian alternative. Proses Penilaian ada yang harus dilakukan dan ada yang tidak dilakukan dalam pembuatan tes pembelajaran:
1.   Penilaian adalah sebuah proses yang terus menerus. Sesuatu yang harus dilakukan oleh guru untuk menentukan apakah muridnya sudah belajar dengan baik atau belum
2. Penilaian berupa member pertanyaan kepada murid, memonitor murid saat pelajaran berlangsung dan memperhatikan setiap murid.
3.      Member ujian setiap soal pada tes harus berhubungan dengan sasaran pengajaran
4.      Berhati-hatilah dalam menulis soal agar sesuai dengan level murid.

B.     Penilaian Sebagai Bagian Integral Pengajaran
Guru harus menghabiskan lebih banyak waktu dalam penilaian ketimbang dalam suatu analisis. Mereka menghabiskan 20-30 persen waktu professional untuk menghadapi persoalan penilaian.
Pandangan integrasi intruksi dan penilaian dari segitiga kerangka : pra-intruksi, selama intruksi dan pasca intruksi.
1.  Penilaian Pra-Intruksi : Jangan membuat ekpektasi yang akan mendistorsi persepsi anda tentang murid. Untuk memecahkan problema level tertentu sebelumnya guru harus melihat nilai murid pada kelas sebelumnya.
2.      Penilaian selama Intruksi : Penilaian formatif adalah penilaian selama jalannya pelajaran atau intruksi, bukan setelah pelajaran selesai. Observasi terus menerus selama proses belajar.

3.   Penilaian Pasca-Intruksi : Penilaian sumatif adalah penilaian setelah intruksi selesai dengan tujuan mencatat kinerja murid, penilaian sesudah intruksi akan menghasilkan informasi tentang berapa baikkah murid menguasai materi.

Pengelolaan Kelas

PENGELOLAAN KELAS
(CLASSROOM MANAGEMENT)

A.    Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Kata pengelolaan diartikan “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu “management” yaitu ketatalaksanaan dan tata pimpinan.
Menurut Winarno pengelolaan adalah suatu tindakan yang dimulai dari penyusunan data, perencanaan, mengorganisasikan, melaksanakan samapi dengan pengawasan dan penilaian pengelolaan menghasilkan sesuatu dan sesuatu itu dapat menjadi sumber penyempurnaan dan peningkatan selanjutnya. Kelas adalah sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.

B.     Faktor-faktor Mempengaruhi Pengelolaan Kelas
Faktor yang menyebabkan kerumitan dalam pengelolaan kelas ada faktor intern siswa dan ekstern siswa. Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran dan perilaku. Sedangkan faktor ekstern siswa terkait dengan pengelolaan suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa dikelas. Untuk mengatasi terjadinya kekacauan dikelas diperlukan adanya usaha guru dalam rangka memperkecil gangguan dalam pengelolaan kelas.

C.    Peranan Guru dalam Pengelolaan Kelas
Guru harus mampu mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar dan merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisir. Pada dasarnya peranan guru sebagai pengelola kelas dibagi empat bagian yaitu: merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengawasi.
Pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dalam memimpin berhasil mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Jika tujuan belum dapat diwujudkan maka guru harus menilai dengan mengatur kembali situasinya akan tetapi bukan berarti mengubah tujuan.

D.    Pengelolaan Kelas yang Efektif
  • Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisir untuk tujuan tertentu yang dilengkapi dengan tugas-tugas dan diarahkan oleh guru
  • Dalam situasi kelas guru bukan tutor untuk satu anak pada waktu tertentu tapi bagi semua anak atau kelompok
  • Kelompok mempunyai perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku masing-masing individu dalam kelompok
  • Kelompok kelas mempersiapkan pengaruhnya kepada anggota
  • Praktek guru waktu belajar cenderung terpusat pada hubungan guru dan siswa
  • Struktur kelompok pada komunikasi dan kelompok ditentukan oleh cara guru mengelola.
E.     Penataan Ruang Kelas
Agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan perlu diperhatikan pengaturan dan penataan kelas atau ruang belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam masalah pengaturan tempat duduk, pengaturan alat-alat pengajaran, penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, pengendalian kondisi belajar yang optimal.

Beberapa Pendekatan yang Dapat Dilakukan
·         Behavior-Modification Approach (Behaviorism Approach)
·         Socio-Emotional Climate-Approach (Humanistic Approach)
·         Group Process Approach

F.     Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
  1. Pendekatan Kekuasaan
  2. Pendekatan Ancaman
  3. Pendekatan Kebebasan
  4. Pendekatan Resep
  5. Pendekatan Pengajaran
  6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
  7. Pendekatan Sosio-Emosional
  8. Pendekatan Kerja Kelompok
  9. Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Mata Kuliah : Pembelajaran PKN di SD 
Dosen : Dirgantara Wicaksono, M.Pd


Teori Belajar Kognitif Sosial

TEORI BELAJAR KOGNITIF SOSIAL
(Cognitive and Social Theories of Learning)

A.    Teori Kognitif Sosial
Teori kognitif sosial menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif serta faktor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognnitif berupa ekspektasi siswa untuk meraih keberhasilan, faktor sosial mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orang tuanya.
Menurut Bandura ketika siswa belajar mereka dapat mempresentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif. Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu karena memiliki kepercayaan yang penuh. Individu akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang dialaminya.

B.     Pembelajaran Observasional
Pembelajaran observasional disebut sebagai pembelajaran imitasi atau modeling adalah pembelajaran yang dilakukan dengan mengamati atau meniru perilaku orang lain. Menurut Bandura ketika anak mengamati perilaku tetapi tidak memberi respon yang dapat diamati, anak tersebut kemungkinan mendapat respon model dalam bentuk kognitif. Proses spesifik yang terlibat dalam pembelajaran observasional ada empat, yaitu proses atensi, retensi, produksi, dan motivasi.

C.    Menggunakan Pembelajaran Observasional Secara Efektif
  1. Pertimbangkan tipe model yang akan dihadirkan untuk siswa
  2. Tunjukan dan ajari perilaku baru
  3. Menggunakan teman sebaya sebagai model yang efektif
  4. Mentor digunakan sebagai model
  5. Undang tamu kelas yang akan memberikan model yang baik bagi murid
  6. Pertimbangkan model yang dilihat anak di televisi, video, komputer.
D.    Teknologi dan Pendidikan
Salah satu acara televisi yang bertujuan untuk mendidik anak-anak adalah ‘Sesame Street’, yang didesain untuk mengajarkan keterampilan kognitif dan sosial. Film tersebut juga ditampilkan kejadian pada kehidupan sehai-hari atau rill. Pengajaran dapat dilakukan secara langsung terutama yang berhubungan dengan keahlian kognitif sedangkan untuk keahlian sosial ditampilkan dengan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan tema yang ditampilkan.

E.     Pendekatan Perilaku Kognitif dan Regulasi Diri
Dalam pendekatan perilaku kognitif adalah mengubah perilaku dengan menyuruh orang untuk memonitor, mengelola mengatur perilaku mereka sendiri, bukan dipengaruhi oleh faktor eksternal. Metode intruksi diri adlah sebuah teknik perilaku kognitif yang digunakan untuk mengajari individu memodifikasi perilaku mereka sendiri. Para behavioris kognitif merekomendasikan cara agar siswa meningkatkan prestasi mereka dengan memonitor perilaku mereka sendiri. Dengan menyuruh siswa membuat diagram atau catatan tindakan mereka. Semua dimulai oleh guru yang notabene sebagai model mereka.

F.     Evaluasi Pendekatan Kognitif Sosial
Pendekatan kognitif sosial memberikan kontribusi penting untuk mendidik anak. Pembelajaran dilakukan dengan mengamati dan mendengarkan model yang kompeten dan kemudian meniru apa yang mereka lakukan. Penekanan pada pendekatan perilaku kognitif pada pembelajaran intruksi diri, pembicaraan diri, dan regulasi diri.

Kelemahan dalam menggunakan teroi kognitif sosial di kelas adalah kesulitan dalam menerapkan porsi self efficacy dan komponen regulasi diri. Bidang lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa dalam di dalam kelas hukuman dari seorang guru atau kurangnya perilaku penguatan positif tertentu dari guru dapat mempengaruhi perilaku dan pembelajaran dikelas. Guru sulit untuk membantu siswa mengembangkan rasa efikasi diri dan regulasi diri.

Mata Kuliah : Pembelajaran PKN di SD
Dosen : Dirgantara Wicaksono, M.Pd 

Perkembangan Manusia

PERKEMBANGAN MANUSIA
(HUMAN DEVELOPMENT)

A.    Definisi Perkembangan
Perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhannya. Pertumbuhan adalah sesuatu yang menyangkut materi jasmaniah yang dapat menumbuhkan fungsi dan perubahan fungsi pada materi jasmaniah. Perubahan jasmaniah dapat menghasilkan kematangan atas fungsinyadan sangat mempengaruhi perubahan fungsi psikologis.

Menurur Robert E. Slavin (2008) perkembangan adalah bagaimana orang tumbuh menyesuaikan diri, dan perubahan sepanjang perjalanan hidup mereka melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosioemosional, perkembangan kognitif serta perkembangan bahasa.Menurut Primo Nebiolo (1993) mengemukakan bahwa ada tingkat-tingkat yang jelas yang mana anak-anak harus melaluinya dari sejak lahir hingga dewasa. Tahapan ini adalah sama, bagi anak laki-laki ataupun perempuan namun biasanya anak perempuan umumnya menjadi dewasa lebih dahulu dari anak laki-laki.
Menurut Sheldon (dalam Djaali, 2008) bahwa manusia dilihat dari segi morphology (bentuk badan) dapat dibedakan menjadi hal-hal berikut:
1.    Endomorph, dengan ciri-ciri; gemuk, suka makan, lambat bereaksi, dan suka berteman.
2.    Mesomorph, dengan ciri-ciri; atletis, agresif, dan suka hal-hal yang menantang.
3.    Ectomorph, dengan cirri-ciri; kurus, cepat dalam bereaksi, dan suka hal-hal yang bersifat privacy. 

B.    Teori-teori Perkembangan
1.        Teori Awal : Preformasionisme (John Locke dan J.J Rousseau)
Dalam teori Preformasionisme berangkat dari pandangan bahwa anak-anak sebagai mahkluk yang berbentuk utuh, sebuah miniatur orang dewasa. Aries (1960) berspekulasi bahwa untuk waktu yang lama masyarakat enggan memberi banyak perhatian pada sifat-sifat anak karena tingginya tingkat kematian pada saat itu. Preformasionisme berkaitang juga dengan egosentris orang dewasa. Orang dewasa cenderung beranggapan kalau manusia hidup memiliki bentuk dan fungsi yang sama dengan yang mereka miliki.
J.J Rousseau membagi 5 tahap perkembangan, fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia, yaitu:
(1)     masa bayi (usia 0-2 tahun); bayi mengalami dunia langsung lewat indranya.
(2)     masa anak-anak (usia 2-12 tahun); anak mulai mendapatkan sebuah independensi baru.
(3)   masa kanak-kanak akhir (usia 12-15 tahun); tahap ini adalah masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa.
(4)   masa dewasa (usia 15-20 tahun); masa dimana anak-anak sepenuhnya menjadi makhluk social dimulai dari pubertas.
(5)     masa pematangan (setelah umur 20 tahun); perkembangan fungsi kehendak mulai dominan.

2.        Teori Pendewasaan/Kematangan (Gesell)
Gesell merupakan orang yang pertama kali dikenal dalam mengembangkan tes kecerdasan bayi, pertumbuhan dan perkembangan anak. Manusia cenderung paling efektif waktu menghadapi dunia dari satu sudut pandang, satu tangan, satu mata dan sebagianya. Pengaturan diri bahwa manusia pada satu saat akan sampai pada kemampuan mengatur perkembangan sendiri. Contoh bagaimana seorang bayi dapat mengatur siklus makan, tidur, dan bangunnya karena pengaturan instrinsik anak-anak terkadang menolak upaya orang dewasa dalam mengajari hal-hal baru.

3.        Teori Etologis (Charles Darwin)
Darwin menyatakan bahwa penemuan-penemuan embriologi sangat bersesuaian dengan teori evolusi. Darwin meyakini, bahwa seleksi alam diaplikasikan bukan hanya pada sifat-sifat fisik (seperti warna kulit) namun juga beragam jenis tingkah laku.

4.        Teori Organismik dan Komparatif (Werner)
Werner ingin mengikat teori perkembangan dengan orientasi organismik dan kompratif. Bagi Werner anak-anak memerlukan kesempatan untuk belajar lewat aktivitas-aktivitas sensori-motoriknya dan tugas-tugas yang bermakna secara emosional bagi mereka. Disatu sisi, Werner sangat menghargai perkembangan pemikiran ilmiah namun tetap mengakui kontribusi yang bernilai dari bentuk-bentuk berfikir primitif.

5.        Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)
Model kognitif Piaget, dengan asumsi bahwa perkembangan manusia dapat digambarkan dalam konsep fungsi dan struktur. Teorinya memberikan banyak konsep utama pada lapangan psikologi dan melakukan perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Bagi Piaget, kemampuan untuk secara lebih cepat mempresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasarkan pada kenyataan. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dan semakin canggih seiring penambahan usia yaitu:
(1)     Periode Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
(2)     Tahapan Pra-operasional (usia 2-6 tahun)
(3)     Tahapan Operasional Konkrit (usia 7-12 tahun)
(4)     Tahapan Operasional Formal (usia 12 tahun sampai dewasa)

6.        Teori Tahap Perkembangan Moral (Kohlberg)
Kohlberg lebih menyoroti tentang perkembangan moral pada manusia. Ada enam tahapan perkembangan moral manusia, yaitu;
a.  Tingkat Pertama, bahwa moralitas Prakonvensional yaitu terdiri dari; Tahap 1. Kepatuhan dan Orientasi Hukuman, dan Tahap 2. Individualisme dan Pertukaran.
b.  Tingkat Kedua, moralitas Konvensional; Tahap 3. Hubungan-hubungan Antar Pribadi yang Baik; Tahap 4. Memelihara Tatanan Sosial.
c.  Tingkat Ketiga, moralitas Pasca – Konvensional; Tahap 5. Kontrak Sosial dan Hak-hak Individual; Tahap 6. Prinsip-prinsip Universal.

7.        Teori Psikoanalitik (Sigmund Freud)
Freud dikenal sebagai pioner teori psikoanalisis. Menurutnya, perubahan psikologis diatur oleh kekuatan-kekuatan bathin, khususnya kedewasaan biologis.Freud menekankan pandangannya bahwa kehidupan pribadi pada dasarnya adalah “libido seksualis” . ada enam tahap perkembangan fisiologis, yaitu:
(1)     Oral (usia 0 - 1 tahun)
(2)     Fase Anal (usia 1 - 3 tahun)
(3)     Fase Falish (usia 3 - 5/6 tahun)
(4)     Fase Latent (usia 5/6 - 12/13 tahun)
(5)     Fase Pubertas (usia 12/13 – dewasa)
(6)     Fase Genital (20 s/d seterusnya)

8.        Teori Delapan Tahap Kehidupan Manusia (Erick Erikson)
Menurut Erikson dalam mengungkapkan teorinya, lebih menyoroti tentang perkembangan sosio emosional manusia. Secara teoritis ada 8 tahap kehidupan manusia yaitu:
(1)     Oral
(2)     Anal
(3)     Falik (Odipal)
(4)     Latensi
(5)     Pubertas (Genital)
(6)     Dewasa Muda
(7)     Dewasa
(8)  Usia Senja

Mata Kuliah : Pembelajaran PKN di SD
Dosen : Dirgantara Wicaksono, M.Pd

Rabu, 03 Juni 2015

Teologi Surat Al-Ma'un

HAKIKAT TEOLOGI AL-MA’UN
Surat al-Maun merupakan surat ke 17 yang terdiri atas 7 ayat dan termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Surat al-Maun diturunkan sesudah surat al-Taakatsur yakni surat ke 16 dan sebelum surat al-Kafirun yakni surat ke 18. Nama al-Maun diambil dari kata al Maun yang terdapat pada akhir ayat. Secara etimologi, al-Maun berarti banyak harta, berguna dan bermanfaat, kebaikan dan ketaatan, dan zakat. Menurut Muhammad Asad kata “al-Ma’un” berdasarkan tafsir klasik dapat dipahami sebagai hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari, perbuatan kebaikan berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil. Dalam maknanya yang lebih luas, kata al-Maun berarti “bantuan” atau “pertolongan” dalam setiap ,kesulitan.
       Surat ini berdasarkan Asbabun Nuzulnya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mudzir berkenaan dengan orang-orang munafik yang memamerkan shalat kepada orang yang beriman. Mereka melakukan shalat dengan riya’ dan meninggalkan apabila tidak ada yang melihatnya, serta menolak memberikan bantuan kepada orang miskin dan anak yatim.
Surat al-Maun berisi empat hal pokok, yakni :
  • Perintah berbuat kebaikan kepada sesama manusia. Terutama kepada anak-anak yatim dan fakir miskin yang merupakan kelompok orang-orang yang tertindas (mustadh’afin).
  • Jangan lupa atau lalai mendirikan shalat.
  • Jangan riya’ (pamer) dalam beribadah.
  • Jangan kikir (pelit) untuk beramal dan berbagi dengan sesama.
keempat hal pokok ini merupakan sifat orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang munafik. Dimana mereka cenderung bermegah-megahan dan berfoya-foya dengan harta benda, lupa dengan ibadah karena sibuk mencari harta semata, suka memamerkan kebaikan kepada orang lain atau tidak ikhlas dalam beribadah, dan tidak mau berbagi dengan fakir miskin. Itulah kenapa kaum muslimin diperintahkan menjauhi keempat perbuatan tidak baik tersebut. Pelanggaran terhadap keempat larangan tersebut disebut sebagai pendusta agama dan menutup hati kita atas kebenaran dan ketundukan semata karena Allah padahal sebelumnya telah menyatakan iman dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah.
       Dalam konteks Muhammadiyah, surat al-Maun memiliki arti yang sangat penting sebab menjadi landasan dasar dan spirit bagi lahirnya gerakan dakwah Muhammadiyah dengan berbagai amal sosialnya berupa rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, rumah sakit, lembaga pendidikan dan lainnya. Berdasarkan sejarah awal Muhammadiyah tercatat kisah mengenai pengajian surat al-Maun dan tafsir pengalamannya.
     Model pembelajaran al-Qur’an sesungguhnya merupakan metode pengajaran yang biasa diberikan oleh K.H Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya. Di dalam pokok pikiran dan ajaran K.H Ahmad Dahlan disebutkan tentang lima jalan dalam memahami al-Qur’an, yaitu :
  1.  Mengenai artinya.
  2. Memahami tafsir dan maksudnya.
  3. Jika mendapatkan larangan dalam al-Qur’an bertanyalah kepada diri sendiri. Apakah larangan tersebut sudah ditinggalkan.
  4. Jika mendapat amar atau perintah perbuatan dalam, al-Qur’an bertanyalah kepada diri sendiri. Apakah amar atau perintah tersebut sudah diamalkan.
  5. Jika amar atau perintah tersebut belum diamalkan jangan membaca ayat yang lain.
Kyai Ahmad Dahlan menafsirkan surat al-Maun ataupun surat-surat al-Qur’an lainnya tidak berdasarkan pemahaman normatif tekstual semata, melainkan Kyai berani keluar dari mainstream pemikiran demi pencapaian tujuan dakwah Islam yang beliau cita-citakan dalam bentuk tafsir aksi atau praksis sosial. Kyai Ahmad Dahlan memiliki pemahaman teologis yang dalam bukan hanya dalam akal pikirnya, melainkan paham teologi itu harus dipraksiskan dalam amal nyata (aksi sosial) sesuai kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat (umat). Kondisi ini bisa dimengerti jika melihat bahwa Kyai sebagai seorang priyayi Jawa memiliki sifat dan sikap (etos) welas asih sebagai kultur dari etika Jawa. Dr. Soetomo seorang dokter priyayi Jawa tertarik dan terlibat aktif dalam Muhammadiyah, tidak bisa dipungkiri karena melihat kewelas-asihan Kyai. Dalam sambutan pembukaan rumah sakit PKU Muhammadiyah Surabaya di tahun 1924, Dokter Soetomo menyakini bahwa etika welas asih itu sebagai antitesis etika Darwinisme (struggle for the fightest) yang menjadi kekuatan gerakan Muhammadiyah. Kenyataannya Kyai mendirikan rumah sakit, bekerjasama dengan dokter-dokter berkebangsaan Belanda dan beragama Nasrani yang bekerja secara sukarela. Kesediaan dokter-dokter Belanda bekerja di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Surabaya tanpa dibayar, bukan bagian dari politik kolonial, melainkan didasari komitmen kemanusiaan dokter Belanda ketika melihat kegiatan kesehatan yang dilakukan Kyai Ahmad Dahlan itu diperuntukkan bagi kaum dhuafa’ dan fakir miskin secara cuma-cuma. Nilai profetik kemanusiaan dalam etika welas asih lah yang menjadi titik temu pandangan tersebut.
Pemahaman Kyai Ahmad Dahlan dalam pengajaran surat al-Maun semakna dengan penafsiran beliau mengenai Q.S. al-Taubah/9: 34-35 yang memiliki penekanan berbeda dengan ulama-ulama lain. Kyai Ahmad Dahlan memahami al-Taubah/9: 34-35 bukan hanya dasar kewajiban zakat, menurut Kyai ayat itu tidak saja mengancam orang yang tidak mengeluarkan zakat, akan tetapi juga bagi siapa saja yang menyimpan harta hanya untuk kepentingan diri sendiri dan tidak mendermakan di jalan Allah. Lebih lanjut Kyai juga mengajarkan “carilah sekuat tenaga harta yang halal, jangan malas. Setelah mendapat, pakailah untuk kepentingan dirimu sendiri dan anak istrimu secukupnya, jangan terlalu mewah. Kelebihannya didermakan di jalan Allah”.
Pemahaman Kyai Ahmad Dahlan yang demikian semakna dengan pandangan beliau mengenai konsep beragama. Baginya beragama itu adalah beramal, artinya berkarya dan berbuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman al-Qur’an dan Sunnah. Orang yang beragama ialah orang yang menghadapkan jiwanya dan hidupnya hanya kepada Allah SWT yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti rela berkurban baik harta benda miliknya dan dirinya, serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah. Itu pula mengapa Kyai menyebut bahwa rakyat kecil, kaum fakir miskin, para hartawan dan para intelektual adalah medan dan sasaran gerakan dakwah Muhammadiyah.
Secara lebih mendalam dapat kita telusuri pemikiran penting Kyai lainnya yang didokumentasikan dengan judul “Tali Pengikat Hidup Manusia” Almanak 1923 yang sudah diterjemahkan dengan judul “The Humanity of Human Life” oleh Charles Kurzman (2002) dalam bukunya “Modernis Islam: A Sourcebook”. Kemudian tulisan Kyai “Peringatan bagi Setiap Muslimin (Muhammadiyyin)”, prasaran Muhammadiyah dalam Kongres Islam di Cirebon tahun 1921. Dalam tulisan tersebut Kyai menekankan bahwa: “…kebanyakan pemimpin belum menuju baik dan enaknya segala manusia, baru memerlukan kaumnya (golongannya) sendiri. Lebih-lebih ada yang hanya memerlukan badannya sendiri saja, kaumnya pun tiada diperdulikan. Jika badannya sendiri sudah mendapat kesenangan, pada perasaannya sudah berpahala, sudah dapat sampai maksudnya…”.
Selanjutnya Kyai juga menegaskan: “Hidupnya akal yang sempurna, dan agar supaya dapat tetap namanya akal, itu harus ada kumpulnya perkara enam… (antara lain). Pertama, memilih perkara apa-apa harus dengan belas kasihan. Manusia tidak sampai pada keutamaan, bila tidak dengan belas kasihannya itu. Segala perbuatannya bisanya kejadian melainkan dengan kejadiannya kesenangan, yang akhirnya lalu bosan dan terus sia-sia. Kedua, harus bersungguh-sungguh akan mencari. Sebab sembarang yang dimaksudkan kepada keutamaan dunia dan akhirat, itu tidak sekali-kali dapat tercapai bila tidak dicari dengan daya upaya ikhtiar, dengan pembelaan harta benda, kekuataan dan fikir”.
Pemahaman tafsir al-Maun tersebut mengkristal dalam bentuk teologi sosial Muhammadiyah dan tauhid sosial. Dari tafsir ke teologi kemudian kepada fikih al-Maun. Amanat Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang tahun 2005 yang meminta Majelis Tarjih menyusun konsep Teologi al-Maun diterima dan disahkan menjadi keputusan Munas Tarjih ke 27 di Malang pada tanggal 3 April 2010 dengan perubahan nama menjadi Fikih al-Maun. Mungkin debatable penamaan tersebut mengingat istilah fikih yang terkesan kaku dan formil. Tetapi yang terpenting substansi utama konsepsi Fikih al-Maun tidak bergeser dari pemikiran Kyai Ahmad Dahlan ataupun amanat Muktamar, yakni dengan melihat kenyataan bahwa umat Islam sampai sekarang masih mengalami ketertinggalan peradaban dan banyak di antara warganya yang menjadi penyandang masalah sosial. Penyelesaian masalah ini secara mendasar harus diawali dari perumusan sistem ajaran yang memadai sebagai basis teologi (tauhid sosial dan teologi al-Maun). Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar bertanggung jawab ambil bagian dalam penyelesaian masalah tersebut dengan menjabarkan tafsir surat al-Maun ke dalam keyakinan teologis dan amal (praksis) sosial. Secara umum Munas Tarjih ke-27 menyepakati bahwa sistematika Fikih al Maun ada dalam “Kerangka Amal al-Ma’un” yang berupa penguatan dan pemberdayaan kekayaan fisik, moral, spiritual, ekonomi, sosial dan lingkungan. Kemudian “Pilar Amal al-Ma’un” terdiri dari rangkaian berkhidmat kepada yang yatim, berkhitmat kepada yang miskin, mewujudkan nilai-nilai shalat, memurnikan niat, menjauhi riya’, dan membangun kemitraan yang berdayaguna. Sementara “Bangunan Amal al-Ma’un” yang disepakati adalah untuk kesejahteraan individu yang bermartabat, kesejahteraan keluarga (Keluarga Sakinah), kesejahteraan masyarakat yang berjiwa besar, kesejahteraan bangsa dan negara.
Dengan demikian, pemahaman tentang Tafsir al-Maun, Teologi al-Maun ataupun Fikih al-Maun di atas tidak boleh berhenti hanya pada konsepsi pemikiran belaka, melainkan harus dapat dijabarkan dalam realisasi amal sosial yang terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan umat dan perkembangan zamannya. Dengan begitu, baik penafsiran ayat al-Qur’an, penghayatannya dalam hati sebagai keyakinan hidup (teologi) maupun pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari (fikih) sesuai dengan pemikiran Kiai Ahmad Dahlan yang menekankan “siapa menanam akan mengetam”, dan “pemimpin itu sedikit bicara banyak bekerja”. Penafsiran yang bermuara pada hasil amal sosial berarti pula terus menumbuhkan gerak dakwah Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan gerakan sosial kemasyarakatan yang bercita-cita untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yaitu masyarakat utama adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur).

      Tugas ini untuk memenuhi:
Mata Kuliah : Pengembangan Pembelajaran PKN di SD
Dosen : Dirgantara Wicaksono, M.Pd